Joko Yuwono

Joko Yuwono, Lahir di Solo, 19 Juni 1973.

Kampung Sewu, Jebres, Solo

Pengalaman dan Pendidikan

Bersekolah di Solo dari SD, SMP, SMA hingga jenjang Perguruan Tinggi. Lulus dari Prodi. Pendidikan Luar Biasa (PLB)/Pendidikan Khusus (PKh) FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 1997, saya hijrah ke Jakarta untuk mengaplikasikan keilmuan yang dapat dengan bekerja di sebuah pusat layanan anak berkebutuhan khusus (Autis dan Cerebral Palscy). Selama 3 tahun bekerja menjadi guru/terapis hingga Kepala Sekolah Luar Biasa telah saya lakoni. Kemudian, pada tahun 2000, saya memulai mendirikan lembaga penanganan anak autis secara mandiri. Akhirnya, saya memiliki 3 lembaga, 2 lembaga penanganan anak autis di Jakarta dan 1 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Kabupaten Tangerang.

Pada tahun 2005, saya mengikuti seleksi masuk Program Master/S2, Jurusan Pendidikan Khusus (fokus materi Pendidikan Inklusif). Kebetulan Program Master ini adalah Program Beasiswa kerjasama Direktorat Pendidikan Khusus Kemdikbud RI dan Braillo Norwey melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Oslo University, Norwegia di Bandung. Beasiswa S2 diberikan kepada angkatan 1 dan 2. Saya adalah angkatan ke 2, tetapi saya tidak termasuk yang diberikan beasiswa dengan alasan karena saya bukan guru SLB (itu dugaan saya). Selama dua tahun saya lulus dan langsung melanjutkan Program Doktor pada Jurusan Psikologi dan Konseling. Selama 5 tahun, saya menempuh Program Doktor. Tahun 2012/2013 saya menyelesaikan sekolahnya. Jadi, 7 tahun saya bersekolah, menuntut ilmu, mondar-mandir Jakarta-Bandung. Senin-Kamis kuliah di Bandung dan Jumat-Minggu harus bekerja untuk membayar kontrakan rumah dan lembaga, member makan anak istri, membayar pegawai dan operasional kantor serta membayar kuliah. Terbayang bukan bagaimana harus banting tulang?

Saya bekerja menjadi guru/terapis di lembaga saya sendiri dan home visit (sejak 1997) di Jakarta sekitarnya. Saya juga pernah menjadi konsultan di Medan selama 2 tahun, 1-2 bulan sekali pergi ke Medan. Demikin pula di Jambi, Bandung dan Solo.

Selain menjadi guru atau terapis, saya juga menjadi Dosen di beberapa Universitas seperti Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Prog. PGSD dan Bimbingan Konseling sekitar 7 tahun, Universitas Islam Nusantara/Uninus Jur. Pendidikan Luar Biasa/Pendidikan Khusus, Bandung selama 7 tahun dan MENDIRIKAN dan mengajar di Jur. Pendidikan Luar Biasa di Universitas Sultan Ageng Tirtayas/Untirta Serang Banten selama 4-5 tahun. Dan tak disangka, saya kembali ke kampung halaman, Solo. Sejak akhir tahun 2018, saya sah pindah home based dan mengabdi di Prodi. Pendidikan Khusus FKIP UNS/Universitas Sebelas Maret Surakarta. Terima Kasih Prof. Dr. Ravik Karsidi (waktu itu Rektor UNS), Drs. Hermawan, M.Si (Kaprodi PLB), Prof. Dr. Sunardi, Prof. Dr Gunarhadi, Prof. Dr. Munawir Yusuf (waktu itu Wakil Dekan 1 Bidang Akademik)   dan juga Dr. Subagya yang memotivasi dan semua dosen PLB FKIP UNS yang sudah sudi menerima saya. Terima Kasih.

Keluarga

Saya adalah anak ke 6 dari 9 bersaudara. Bapak saya adalah seorang sopir dan si Mbok adalah penjual gorengan dan nasi kucing di Solo. Penghasilan jauh dari pas-pasan. Rumah kecil, di Kampung Sewu Jebres Solo. Tak punya tempat tidur sehingga saya harus tidur di Musholla Nurul Huda dari sejak akhir SMP hingga selesai kuliah S1. Hidup seadanya. Sekolah terbata-bata. Saya harus bersekolah sambil bekerja dari S1-S3, semuanya MANDIRI. Alhamdulilah. Bekerja apa saja pernah saya lakoni, jual jagung bakar, jual nasi, jualan es dawet, kuli bangunan (pasang terpus; atap rumah), jualan alat kesehatan, jualan tas keliling hingga Pacitan dan Ponorogo, membuat tas dari sak semen, hingga mengamen adalah cara untuk mempertahankan hidup dan sekolah harus tuntas. Bahkan terkadang “mengemis” uang kepada dosen dan direktur di sebuah kantor pemerintahan karena tidak ada pilihan. Sekal lagi tidak ada pilihan.

Selalu cemas setelah ujian akhir semester, sementara mahasiswa yang lainya kebanyakan sibuk memikirkan kemana mereka mau rekreasi/refreshing. Saya sibuk berpikir keras kemana mencari uang SPP yang pada waktu itu cuma Rp. 90.000-Rp. 150.000. Tantangan yang luar biasa bukaaan? Dan tak menyangka kini saya bisa bersekolah terus hingga tuntas. Terima kasih Allah SWT.

Apa yang saya tulis di atas bukanlah apa-apa kecuali saya hanya ingin berbagi pengalaman semata dan memotivasi diri agar tetap bersemangat menjalani hidup yang bermanfaat. Karena sejatinya, sekolah hanyalah tanda bahwa kita pernah belajar. Sekolah hingga setinggi-tinginya adalah baik. Apalah artinya sekolah tinggi-tinggi tetapi kita tidak memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Lakukan yang terbaik.

Terus Belajar dan Hidup Bermanfaat!!